Mendengar suara itu, langkah Lynx langsung terhenti. Jantungnya seolah terhimpit, napasnya tersendat, tubuhnya menegang. Panggilan lembut itu menyusup ke dalam jiwanya, menggetarkan seluruh keberadaannya.

"Sayang..."

Jantungnya berdegup kencang. Apakah ini ilusi? Atau…?

Tubuhnya menegang, tangannya mengepal tanpa sadar. Dengan napas tersendat, Lynx mencoba membalikkan tubuhnya, namun seakan ada beban tak kasatmata yang menahannya. Dengan langkah tertahan,seolah dunia di sekelilingnya melambat, ia mendekati Ling Mei, dadanya bergemuruh dengan ketakutan dan harapan yang bertarung di dalamnya.

Lala dan Li Wei terperanjat, mata mereka membelalak tak percaya saat mendengar suara itu. Mereka segera menoleh ke arah tempat tidur.

Di sana, Ling Mei telah bangun dan duduk di atas dipannya, wajahnya berseri dengan senyum lembut yang begitu familiar—terlalu familiar. Sorot matanya berpendar penuh kehangatan, seolah menyimpan kerinduan yang tak terucapkan.

Lynx menahan napas. "Apa… apa yang baru saja kau katakan?" suaranya hampir berbisik, serak, nyaris tercekat di tenggorokannya, dipenuhi gejolak emosi.

Ling Mei menatapnya dengan penuh kelembutan. "Sayangku... Lynx... Apa kau sudah tidak mengenaliku lagi? Lala, apa kabar?"

Kesunyian yang begitu mendalam menyelimuti ruangan. Dunia Lynx serasa runtuh dalam sekejap.

Lala menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Matanya yang basah menatap gadis di depannya dengan campuran harapan dan ketakutan. "Leena?" bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. Dia masih belum yakin dengan pendengaran dan penglihatannya. Selama beberapa tahun dia mencari Lynx dan Leena dengan harapan bisa segera menemukannya. Sebagai sesama pendatang dari dimensi dunia yang lebih modern, Lala merasakan kedekatan yang berbeda bersama Lynx dan Leena daripada dengan penduduk Surya lainnya.

Lynx terpaku di tempatnya, tak mampu bergerak, tak mampu bernapas. Ia ingin percaya, tapi bagaimana mungkin? Ia sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa Ling Mei bukanlah Leena. Ia sudah mencoba melepaskan harapan itu. Bahkan merasakan penyesalan yang sangat mendalam karena sudah melakukan hal yang diluar batas karena salah mengira Ling Mei adalah Leena. Namun sekarang… wanita yang duduk di hadapannya, yang menatapnya dengan penuh kasih sayang, baru saja memanggilnya seperti dulu. Cara memandangnya, senyumnya dan tatapan lembutnya membuat Lynx tanpa disadari mengeluarkan air mata kebahagian.

Dadanya sesak. Ia merasa tubuhnya menggigil. "Leena…" bisiknya, nyaris tak terdengar.

Leena tersenyum lebih lebar, matanya dipenuhi kebahagiaan dan air mata yang mulai mengalir perlahan. "Ini aku, sayang…"

Pada detik itu, kendali Lynx hancur.

Ia berlari ke arahnya dan merengkuh Leena erat, seolah takut ini hanyalah mimpi yang akan lenyap jika ia terlalu lama ragu. "Leena…" Suaranya pecah, napasnya bergetar di bahu gadis itu. "Aku… aku mencarimu… aku merindukanmu… aku tiada henti selalu memikirkanmu…!"

Leena membalas pelukannya dengan erat, jari-jarinya mencengkeram punggung Lynx, seakan tak ingin berpisah lagi. "Aku juga merindukanmu, Lynx…"

Lala masih berdiri terpaku, air mata mulai mengalir deras di pipinya. Dengan langkah gontai, ia mendekat, lalu tanpa ragu, ia juga memeluk Leena. "Bodoh!" isaknya. "Aku tidak menduga ternyata Ling Mei memang dirimu… Aku mencarimu begitu lama… Kenapa kau tidak kembali padaku lebih cepat?!"

Leena tertawa kecil di antara tangisnya. "Maafkan aku, Lala… Ingatanku baru kembali… Aku bahagia bisa mengingat kalian kembali… "

Li Wei masih berdiri kaku, kebingungan. Wajahnya dipenuhi campuran keterkejutan dan ketidakpercayaan. "Tunggu… tunggu sebentar!" suaranya nyaring, berusaha memahami situasi yang terjadi di depan matanya. "Apa maksudnya ini? Siapa sebenarnya Kak Ling Mei? Kenapa kalian memanggilnya Leena?! Dan kenapa dia memanggilmu Lynx?"

Namun, baik Lynx maupun Lala tidak mendengar pertanyaannya.

Di ruangan itu, yang ada hanyalah tiga jiwa yang akhirnya menemukan kembali satu sama lain setelah perpisahan yang panjang dan menyakitkan.

Guru Yuan yang berdiri di belakang Li Wei mengerutkan alisnya, merasakan kebingungan yang sama. Matanya menelusuri ekspresi orang-orang di depannya, mencoba memahami situasi yang mendadak terasa begitu janggal.

"Apa maksudnya kehilangan ingatan? Tetua Ling Juan tidak pernah mengatakan bahwa Ling Mei mengalami gangguan ingatan. Apakah sesuatu terjadi saat mereka berlatih di dunia tersembunyi?" pikir Guru Yuan, matanya mengamati Ling Mei—atau siapa pun dia sebenarnya.

Sejak kembali dari pelatihannya, memang ada sesuatu yang berbeda dari Ling Mei. Ia lebih terbuka, lebih sering berinteraksi, meskipun tetap menjaga sikap dinginnya. Namun, sejak kecil, gadis itu memang tidak banyak berbicara. Ia lebih sering menyendiri, berlatih bersama ayahnya, dan menjauh dari kebanyakan orang. Tak banyak yang benar-benar mengenalnya, dan kini… kebenaran yang tersingkap membuat semua keyakinannya goyah.

Di sampingnya, Li Wei tampak semakin bingung. Mata wanita itu bergerak gelisah, bergantian menatap Lynx, Leena, dan Lala. Ia mengerutkan kening, lalu berseru dengan nada sedikit merengek, "Xiao Ling! Kak Ling Mei! Kenapa kalian mengabaikanku? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Lynx perlahan melepaskan pelukannya dari Leena dan menatap Li Wei serta Guru Yuan dengan ekspresi serius. Napasnya masih belum teratur, emosi yang bergolak di dadanya belum sepenuhnya mereda.

"Aku akan menjelaskan semuanya," katanya tegas, "tapi bukan saat ini. Kami sendiri juga belum dapat memahami dengan jelas situasi yang sebenarnya."

Leena menatapnya, matanya masih dipenuhi emosi yang berkecamuk. "Lynx… bagaimana ingatanku bisa kembali?"

Lynx menghela napas dalam, seolah berusaha mengatur pikirannya. Dengan lembut, ia mengusap wajahnya sendiri sebelum menjawab. "Apakah kamu mengingat semua yang terjadi selama ini?"

Leena terdiam, mencoba mengumpulkan ingatan yang selama ini terpecah belah.

Ling Mei atau nama aslinya Leena, berusaha mengingat apa yang terjadi. Dalam benaknya, bayangan-bayangan kabur mulai muncul. Ia mengingat badai mengerikan saat mereka melewati portal dimensi, dia melihat Lynx diserang banyak petir. Karena khawatir Lynx yang sedang menyegel dirinya terluka, Leena berusaha menyelamatkan Lynx, namun terlambat. Dia melihat Lynx disambar petir dan dia melihat sinar menyilaukan mata mengenai dirinya yang berusaha mendekati Lynx. Setelah itu Leena tidak mengingatnya lagi apa yang terjadi, semua terlihat gelap. Saat kesadarannya kembali, ia sudah berada di tempat asing, dihadapkan pada pria tua yang tampak khawatir. Orang itu menatapnya penuh kepanikan, memanggilnya dengan nama Ling Mei.

Leena menganggukkan kepalanya pelan, matanya dipenuhi kesadaran yang baru saja kembali. "Aku ingat semuanya sekarang, Lynx…" suaranya bergetar, dadanya naik turun seiring emosi yang berkecamuk. "Selama beberapa tahun ini, aku hidup sebagai Ling Mei… Ayah Ling Juan menemukanku saat ledakan ruang-waktu terjadi ketika dia datang untuk menjemputku. Dia bilang kemungkinan saat aku keluar dari dunia kecil, terjadi masalah dengan pintu dimensi. Dia menemukan tubuhku yang terluka parah."

Lynx menatapnya tanpa berkedip, napasnya tercekat.

Leena menggigit bibirnya, mencoba mengumpulkan kepingan ingatan yang masih tersisa. "Dia berusaha menyembuhkanku… dan katanya, selama masa pemulihan, tubuhku menyerap energi qi dalam jumlah besar. Itu sebabnya lukaku cepat pulih, tapi… ingatanku lenyap. Aku tidak tahu siapa diriku, aku hanya tahu namaku adalah Ling Mei, karena itulah yang mereka panggil."

Lala, yang sejak tadi mendengarkan dengan serius, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang janggal. Pikirannya berputar cepat, lalu mata cokelatnya sedikit membelalak. "Tunggu… jika Leena selama ini adalah Ling Mei… lalu bagaimana dengan Ling Mei yang asli? Jika benar dia ada… bukankah mungkin dia masih di dunia kecil, berlatih seperti sebelumnya?"

Mata Lala sedikit menyipit, lalu dengan cepat ia memberi kode kepada Lynx dan Leena dengan tatapan penuh peringatan. Nada suaranya terdengar lebih tegas saat berkata, "Kita sebaiknya membahas ini lain waktu. Aku yakin, ada hal yang lebih mendesak yang harus segera diurus oleh Ling Mei. Bukankah sekte Api Langit sedang melakukan hal penting, kita tidak bisa berlama-lama ditempat ini"

Lynx tersentak, menyadari keberadaan Guru Yuan dan Li Wei di ruangan yang sama. Mereka tidak boleh sembrono. Terutama Lynx dapat melihat guru Yuan menatap tajam kearah mereka  dengan tatapan curiga.

Leena, yang tadinya tenggelam dalam perasaannya, juga segera sadar. Identitasnya… jika ini sampai terungkap dengan cara yang salah, mereka semua bisa berada dalam bahaya.

